Perangkat pembelajaran
Nur Hajiati Arafah
11901268
Perangkat pembelajaran
Perangkat Pembelajaran merupakan hal yang harus disiapkan oleh
guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Perangkat adalah alat atau
perlengkapan, sedangkan pembelajaran adalah proses atau cara menjadikan orang belajar.
Menurut Zuhdan, perangkat pembelajaran adalah alat atau perlengkapan untuk
melaksanakan proses yang memungkinkan pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan
pembelajaran. Perangkat pembelajaran menjadi pegangan bagi guru dalam
melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium atau di luar kelas Suhadi
menyatakan perangkat pembelajaran adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk
dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan
sumber belajar yang memungkinkan guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran.
Dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standard Proses
Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa penyusunan perangkat
pembelajaran merupakan bagian dari penyusunan perangkat pembelajaran. Perencanaan
pembelajaran dirancang dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu pada standar
isi. Selain itu, dalam perencanaan pembelajaran juga dilakukan penyiapan media
dan sumber belajar, perangkat penilaian dan skenario pembelajaran.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran
adalah sekumpulan sumber belajar atau alat pendukung yang digunakan oleh guru
dan siswa dalam melakukan proses kegiatan pembelajaran.
Menurut Sugiyono terdapat sepuluh langkah penelitian pengembangan,
yaitu:
1.
Potensi dan masalah, penelitian dan pengembangan
beranjak pada potensi dan masalah yang dikemukakan dalam bentuk data dan
empirik. Potensi dan masalah tidak harus dicari sendiri, tapi bisa berasal dari
penelitian lain yang masih up to date.
2.
Mengumpulkan informasi. Data faktual dan up to
date yang didapat dari potensi dan masalah kemudian dikumpulkan sebagai
informasi yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu
yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.
3.
Desain produk. Desain produk harus diwujudkan
dalam bentuk bagan atau gambar, sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk
menilai dan membuatnya.
4.
Validasi desain, merupakan proses kegiatan untuk
menilai apakah rancangan produk secara rasional akan lebih efektif dari produk
lama atau tidak. Validasi dapat dilakukan dengan menghadirkan pakar yang sudah
berpengalaman (expert judgement) untuk menilai produk baru yang dirancang
tersebut.
5.
Perbaikan desain. Berdasarkan validasi yang
dilakukan oleh ahli (expert judgement), jika terdapat kelemahan maka harus dilakukan
perbaikan atas desain produk tersebut.
6.
Uji coba produk dilakukan pada kelompok terbatas
yang telah ditentukan. Pengujian dapat dilakukan dengan metode eksperimen,
yaitu membandingkan efektivitas produk lama dengan yang baru.
7.
Revisi produk setelah diujikan kepada sampel
tertentu, namun masih ditemukan beberapa kelemahan maka akan diperbaiki sehingga
dapat digunakan untuk jangkauan luas.
8.
Uji coba pemakaian. Setelah pengujian terhadap
produk berhasil, dan mungkin ada revisi yang tidak terlalu penting, maka
selanjutnya produk baru tersebut dapat diterapkan dalam lingkup lembaga
pendidikan yang lebih luas. Dalam operasinya, produk baru tersebut tetap harus
dinilai kekurangan atau hambatan yang muncul guna untuk perbaikan lebih lanjut.
9.
Revisi produk dilakukan jika dalam pemakaian
dalam lembaga pendidikan yang lebih luas terdapat kekurangan dan kelemahan.
10.
Pembuatan produk masal. Bila produk baru
tersebut telah dinyatakan efektif dalam beberapa kali pengujian, maka produk
baru tersebut dapat digunakan pada setiap lembaga pendidikan.
Menurut Nur dan Wikandari, reciprocal teaching merupakan
suatu pendekatan terhadap pengajaran siswa akan strategi-strategi belajar. Reciprocal
teaching adalah pendekatan kontruktivis yang berdasar pada prinsip-prinsip pembuatan/pengajuan
pertanyaan. Guru lebih berperan sebagai model yang menjadi contoh, fasilitator
yang memberi kemudahan dan pembimbing yang melakukan scaffolding.
Scaffolding adalah pemberian sejumlah besar bantuan kepada
seorang anak kepada tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian anak tersebut
mengambil alih tanggung jawab dan semakin besar segera setelah itu dapat
melakukannya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan
masalah kedalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, ataupun yang
lainnya yang memungkinkan peserta didik untuk tumbuh mandiri Salah satu cara
yang dapat ditempuh guru untuk mengoptimalkan model pembelajaran terbalik
khususnya pada kelas besar dengan mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok
kecil. Suasana belajar dalam kelompok dapat membantu siswa untuk saling
memberikan umpan balik diantara anggota kelompok. Selain itu, belajar
berkelompok merupakan aspek penting dalam proses mengkontruksi pengetahuan
karena dapat membuka peluang untuk terjadinya tukar pendapat, mempertahankan
argumentasi, negoisasi antar siswa atau kelompok, sehingga merangsang siswa berpartisipasi
aktif dalam pembelajaran.
Pada dasarnya, setiap strategi yang dipilih adalah sebagai sarana
untuk membantu siswa dalam membangun makna dari teks juga sebagai alat
pemantauan mereka membaca untuk memastikan bahwa mereka sebenarnya memahami apa
yang dibaca. Masing-masing dari strategi pembelajaran terbalik ini akan
membantu siswa membangun pengertian terhadap materi yang sedang mereka pelajari
secara mandiri. Hasil penelitian berturut-turut oleh Palinscar pada tahun 1987;
Rosenshine dan Meister pada tahun 1991; Lysinchuk pada tahun 1994; Palinscar
dan Brown pada tahun 1994 menyatakan bahwa model reciprocal teaching telah
dianggap sebagai strategi untuk meningkatkan prestasi akademik siswa yang kemampuannya
akademiknya rendah. Pada fase ini, guru memperkenalkan reciprocal teaching pada
siswa, misalnya anda (sebagai guru) mengawali permodelan dilakukan dengan
membaca satu paragraf suatu bacaan. Namun pada penelitian ini permodelan
dilakukan dengan menayangkan sebuah video yang mengandung beberapa permasalahan
matematika. Setelah siswa memahami keterampilan-keterampilan diatas, guru akan
menunjukkan seorang siswa untuk menggantikan perannya dalam kelompok tersebut.
Mula-mula ditunjuk siswa yang memiliki kemampuan memimpin diskusi, selanjutnya
secara bergilir setiap siswa merasakan/melakukan peran sebagai guru.
Pembelajaran terbalik mengutamakan peran aktif siswa dalam
pembelajaran untuk membangun pemahamannya dan mengembangkan kemampuan
komunikasi matematiknya secara mandiri. Prinsip tersebut sejalan dengan prinsip
dasar konstruktivisme yang beranggapan bahwa pengetahuan itu merupakan
konstruksi (bentukan) dari kita yang mengetahui sesuatu. Pengetahuan itu
bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan, melainkan suatu perumusan yang
diciptakan orang yang sedang mempelajarinya. Dengan demikian, proses pembelajaran
merupakan suatu proses aktif siswa yang sedang belajar untuk membangun
pengetahuannya sendiri, sedangkan guru berperan menyediakan suasana/kondisi
belajar yang mendukung proses konstruksi pengetahuan pada diri siswa. Singkatnya,
setiap strategi yang dipilih adalah sebagai sarana untuk membantu siswa dalam
membangun makna dari informasi yang mereka peroleh serta sebagai alat pemantauan
mereka mengamati untuk memastikan bahwa mereka sebenarnya memahami informasi
yang didapat. Masing-masing dari strategi pembelajaran terbalik ini akan
membantu siswa membantu membangun pengertian terhadap materi yang sedang mereka
pelajari secara mandiri.
Menurut Abdul Aziz, kelebihan dan kekurangan dari reciprocal
teaching antara lain:
1.
Kelebihan dengan penggunaan reciprocal teaching
ini antara lain yaitu:
a.
Mengembangkan kreativitas siswa
b.
Memupuk kerja sama antar siswa.
c.
Menumbuhkan bakat siswa terutama dalam hal berbicara
dan mengembangkan sikap.
d.
Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati
sendiri.
e.
Memupuk keberanian berpendapat dan berbicara didepan
kelas.
f.
Melatih siswa untuk menganalisa masalah dan mengambil
kesimpulan dalam waktu singkat.
g.
Menumbuhkan sikap menghargai guru karena siswa akan
merasakan perasaan guru pada saat mengadakan pembelajaran terutama pada saat
siswa ramai atau kurang memperhatikan.
h.
Dapat digunakan untuk materi pelajaran yang
banyak dan alokasi waktu yang terbatas.
2.
Kelemahan
dari reciprocal teaching ini adalah:
a.
Adanya
kurang kesungguhan para siswa yang berperan sebagai guru yang menyebabkan
tujuan tak tercapai.
b.
Pendengar
(siswa yang tidak berperan) sering menertawakan perilaku siswa yang menjadi
guru, sehingga merusak suasana.
c.
Kurangnya perhatian siswa kepada pelajaran dan
hanya memperhatikan aktifitas siswa yang berperan sebagai guru membuat
kesimpulan akhir sulit tercapai.
Menurut Corebima, PBMP atau TEQ (Thinking Empowerment by
Question) merupakan pola pembelajaran yang dilaksanakan dengan tidak ada proses
pembelajaran yang berlangsung secara informatif, seluruhnya dilakukan melalui rangkaian
atau jalinan pertanyaan yang telah dirancang secara tertulis dalam
lembar-lembar PBMP. Pada pembelajaran yang didukung oleh kegiatan praktikum
sekalipun, pola pembelajaran itu tetap dipertahankan, meskipun untuk operasionalisasi
kegiatan praktikum dibutuhkan pula perintah-perintah teknis. Melalui
pembelajaran dengan PBMP diharapkan dapat dikembangkan kemampuan berpikir kritis
yang merupakan salah satu ciri dari berkembangnya penalaran formal. Kemampuan
berpikir secara aktif dapat dikembangkan melalui berbagai aktivitas,
diantaranya melalui penciptaan pertanyaan. Penciptaan pertanyaan tersebut dapat
dilakukan bersama-sama guru dan siswa. Hal tersebut tidak dapat terjadi secara
otomatis. Guru harus mempersiapkannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk
siswanya. Guru harus menjadi katalisator dalam penciptaan
pertanyaan-pertanyaan.
Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka dan divergen
akan menimbulkan respon dari siswa dan dapat menunjang perkembangan berpikir
secara aktif. pola pembelajaran ini
adalah untuk membantu siswa berpikir, membantu siswa merumuskan pertanyaan dan membantu
siswa mencari jawaban pertanyaan, karena siswa harus menjadi partisipan pada
pembelajaran roses pembelajaran yang baik bukan untuk memberikan dominasi guru
dalam mengajar atau tidak memberikan akses bagi para siswa untuk berkembang,
melainkan memberikan kesempatan para siswa secara mandiri untuk mengembangkan
proses berpikirnya. Oleh karena itu, guru harus bijaksana dalam menentukan
proses pembelajaran yang tepat dalam menciptakan situasi proses belajar
mengajar yang menjadi solusi cemerlang guna memecahkan permasalahan dalam
pembelajaran. Menurut Piaget, perumusan pertanyaan-pertanyaan merupakan salah
satu bagian yang paling penting dan palingkreatif dari sains yang diabaikan
dalam pendidikan sains.
memacu timbulnya pertanyaan-pertanyaan. Hal tersebut
nampaknya berhubungan dengan semakin berkembangnya penalaran siswa. Dari uraian
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan
(PBMP) adalah pola pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan pembelajaran
secara informatif namun dilakukan melalui rangkaian atau jalinan pertanyaan
yang telah dirancang secara tertulis dalam lembar-lembar PBMP dengan tujuan
untuk membantu siswa berpikir, membantu siswa merumuskan pertanyaan dan
membantu siswa mencari jawaban pertanyaan, karena siswa harus menjadi
partisipan pada proses pembelajaran yang baik bukan untuk memberikan dominasi guru
dalam mengajar atau tidak memberikan akses bagi para siswa untuk berkembang,
melainkan memberikan kesempatan para siswa secara mandiri untuk mengembangkan
proses berpikirnya Karakteristik PBMP terletak pada Pola PBMP yang dirangkai
secara tertulis Pertanyaan tentang hal yang sama dapat diulang dan dirumuskan
dari sudut pandang yang berbeda-beda dan satu konsep dan subkonsep dikaji
sebanyak-banyaknya sesuai dengan tingkat perkembangan, dari yang bersifat umum
ke khusus atau sebaliknya (asalkan konsisten) dalam alur pikir yang logis
berurutan.
Komentar
Posting Komentar